Text
Laut Bercerita
Novel ini ditulis dalam sudut pandang ‘Aku’ dari kedua karakter Biru Laut Wibisono dan Asmara Jati. Biru Laut adalah seorang Mahasiswa, yang mempunyai adik bernama Asmara Jati. Baik Laut atau Asmara Jati, keduanya menjadi tokoh utama dalam Novel tersebut.
Bermula pada tahun 1991, Leila mengawali novelnya dengan mengisahkan kehidupan sekelompok mahasiswa yang berkegiatan di suatu rumah di Seyegan, Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswa ini memiliki ketertarikan yang sama terhadap bacaan termasuk sastra. Dalam hal ini, termasuk sastra yang sempat dilarang untuk dibicarakan ketika itu, sastra karya Pramoedya Ananta Toer.
Dalam novel ini, alur yang digunakan tidak berurutan. Dari 1991, pembaca akan diarahkan menuju bab berikutnya yakni tahun 1998. Leila menulis berdasarkan peristiwa saat ini (ketika Biru Laut berada dalam penjara) dan masa lalu (ketika Biru laut masih menjadi mahasiswa dan buron).
Sebelum berada di penjara, konflik yang dihadapi Laut cukup banyak. Termasuk bagaimana ketika ia dan teman-temannya mengatur diskusi dan aksi demi membela petani Jagung di Blangguan yang tanahnya diambil secara tidak adil oleh pemerintah. Selain itu, novel ini juga bercerita bagaimana salah satu sahabat Laut berkhianat dan membocorkan informasi kepada intel. Aktivisme-aktivisme dan pembelaan ini yang kemudian diketahui oleh intel mengantarkan Laut kepada penjara.
Selanjutnya, Novel ini menceritakan bagaimana keluarga Laut termasuk Asmara Jati mengupayakan untuk mencari mahasiswa-mahasiswa yang hilang—termasuk Laut—yang tidak diketahui keberadaannya hingga beberapa tahun. Asmara Jati juga sempat menulis surat imajinatif yang ia sampaikan kepada Laut:
"Mas Laut,
Bapak sudah menyusulmu pagi tadi.
Peluklah ia karena beliau sangat rindu padamu
Empat tahun piring makanmu tidak boleh kami singkirkan, empat tahun kamarmu dan buku-bukumu berdiri tegak persis pada tempatnya tanpa sebutir debu pun yang berani melekat karena Bapak rajin merawatnya. Sesekali jika dia memangku ranselmu yang sudah butut itu dan mengelus-elusnya, seolah barang yang setia melekat di punggungmu itu adalah pengganti dirimu.”[1]
Tidak tersedia versi lain